Cover Lagu Tawa Disebalik Duka

KUSULAM KISAH BARU

Pelangi-pelangi itu nampak terlihat begitu indah, menguning di atas genangan air yang mulai menjingga.. aku masih saja menunggumu dalam kesepian dan di setiap nafas yang terhembus sempurna. aku masih saja melihat pelangi itu terus menjingga walaupun telah berubah warnanya saat kau tiada aku membuta bersamanya, seolah tertutup oleh masa lalu yang kelam mendekam, menghujam nurani ini,
Bergejolak ingin menggapai bayangan semumu. Jalanan ini masih terlalu sunyi untuk ku lalui tanpamu, kesendirian itu menyembur penuh dengan seribu balutan kalut terbungkus rapi penuh dengan akal- akal yang sunyi membalut. Andai saja tangan ini masih tetap berada di tempatnya berpegang pada hati, dan engkau berada disampingku untuk selalu menggenggamnya. Apakah ini salah????? Dalam lamunan yang kurasakan begitu mampu menoreh pahitnya goresan luka karena cinta, aku tak dapat menyalahkan dirimu, yang hadir lalu pergi bersama sepotong hati milikku. dan perlahan matahari mulai menenggelamkan kalam di tengah lautan. hingga aku tak dapat melihat pelangi itu kembali. matahari telah membawamu pergi jauh dari sisiku bahkan jauh dan sangat jauh untuk dapat tahu keberadaanmu, aku pun hanya terpaku, sendiri, berharap. Dia yang lain akan membawakan pelangi yang baru untukku. bersama terbitnya matahari, kan kusulam kisah dalam lembar putih nan baru. bukan di hatimu, bukan dalam hidupmu, tapi untuknya yang mencintaiku.

Akhir Sebuah Pengembaraan

Syair cinta tertulis indah pada dinding hati, tertulis dengan tinta kesetiaan, berjanji akan selalu memberikan kebahagiaan menjaga keutuhan istana yang telah dibina dengan pondasi cinta dan kasih sayang dari sebuah ikatan asmara Kelana itu telah menemukan tempat terakhirnya, membina hidup bersama dengan gadis pilihannya, hidup kini terasa sempurna. Kehidupan telah digariskan, berawal dari zaman azali. hingga berpindah alam dunia cinta tumbuh di setiap hati anak manusia, namun dia tak akan pernah mati Cinta mengajarkan arti sebuah pengorbanan, bukan sebuah keterpaksaan, karena cinta tak ingin dipaksakan. Begitu juga cintaku padamu, bukan sebuah kepura - puraan, bukan juga sebuah keterpaksaan, Aku mencintaimu bagaikan cintanya api pada kayu yang tak sempat diucapkan, Cintaku tumbuh pada saat aku melihatmu pertama kalinya. Dulu sebelum aku mengenalmu Aku bagaikan daun - daun kering yang berguguran Berserakan ditiup angin Kini namamu telah ku ukir dengan tinta kesetiaan, disetiap pilar - pilar istana hatiku, hingga aku menutup mata, akan kubawa cintaku padamu. Namamu senantiasa ku ucapkan di setiap bait - bait doaku, Disetiap detak jantung dan hembusan nafasku Namamu terucap dengan sempurna. Pengembara itu telah berhenti berjalan, disaat sumpah setia terucap, bukan berasal dari lidah, karena lidah mampu memutar balikkan kata namun berasal dari hati yang paling dalam. Karya. Rizal Kelana Makassar. 16 desember 2022